HAMKA: From the First Pancasila to the Integrity of Bhineka Tunggal Ika in Indonesia

Risky Aulya Ramadan, Pujiyaturrahmi Pujiyaturrahmi

Abstract


This problem begins with the fading of understanding and application of Pancasila values as a way of life in society, nation and state, especially the first principle in Indonesia. This has led to the emergence of various separatist movements that want to separate themselves from the Republic of Indonesia and groups that do not want to respect the red and white flag, sing the Indonesia Raya song and so on. HAMKA said that it was from the first precept of “Belief in One God” that everything began, from that precept as a vein of Pancasila, according to him if the Indonesian people really understood the meaning of this first precept, the next precepts would be well preserved and Bhineka Tunggal Ika was created. This article uses qualitative research methods and this type of research is literature. The primary data of this research is obtained through reading HAMKA's works while secondary data is obtained from books and journals related to Pancasila and Unity in Diversity. This article uses document study as the basis for data collection. This article finds HAMKA's wise attitude in maintaining the integrity of Bhineka Tunggal Ika, by giving a moderate response to Bung Karno's speech so as not to cause hatred and division and the proposal to hold halal bi halal Eid al Fitri and Christmas are equalized. This article has implications for strengthening the motto of Unity in Diversity in Indonesia


Keywords


HAMKA, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika

Full Text:

PDF

References


Abdul, M. R. (2019). Burung Kecil yang Melihat Manusia dan Kehidupannya. CV.

Perahu Litera Group.

Abdullah, M. A. (2009). Falsafah Kallam Di Era Postmodernisme (IV). Pustaka

Pelajar.

Ali, F. (1983). HAMKA dan Masyarakat Islam Indonesia: Catatan Pendahu-luan

Riwayat dan Perjuangannya. Prisma.

Chomsah, A. (2022). Pancasila Vs Khilafah: Melalui Moderasi Beragama.

Kementerian Agama.

Damami, M. (2000). Tasawuf Positif. Fajar Pustaka Baru.

Fata, A. K. (2020). Buya HAMKA Pemikiran Dan Perannya Di Pentas Politik

Nasional. RASAIL Media Group.

Hamim, N. (2009). Manusia dan Pendidikan Elaborasi Pemikiran HAMKA. Qisthos.

Hamka. (2020). studi islam. Gema Insani.

HAMKA. (1951). Urat Tungggang Pantjasila. Pustaka Keluarga.

HAMKA. (1956). Undang-Undang Dasar Islam dan Tjita-tjita Islam. Hikmah,

(2), 8.

HAMKA. (1974). Kenang-kenangan Hidup. Bulan Bintang.

HAMKA. (1984). Islam Revolusi Ideologi Sosial. Pustaka Panjimas.

HAMKA. (2015). Dari Hati Ke Hati. Gema Insani.

Hamka, R. (1983). Pribadi Dan Martabat Buya Prof. Dr. HAMKA. Pustaka Panimas.

Miharja, S. (2018). Islam, Negara Dan Streotif Anti Pancasila. KELOLA: Jurnal

Sosial, 1(1), 132.

Muhammad, H. (2006). Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh Abad 20. Gema Insani.

Musyafa, H. (2018). HAMKA: Sebuah Novel Biografi. Imani.

Nasit Tamara, D. (1996). HAMKA di Mata Hati Umat. Pustaka Sinar Harapan.

Nizar, S. (2008). Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran HAMKA

tentang Dinamika Islam. Kencana.

Noer, D. (1985). Gerakan Modern Islam Di Indonesia 1900-1942. LP3S.

Octavia, W. A. (2018). Urgensi Memahami Dan Mengimplementasikan Nilainilai

Pancasila Dalam Kehidupan Sehari Hari Sebagai Sebuah Bangsa. Bihinneka

Tunggal Ika, 5(2), 123.

PSBH. (2018). Ensiklopedia Buya HAMKA. In Suara Muhammadiyah (p. 322).

Qodir, A. T. F. dan Z. (2020). Agama Musuh Pancasila? Studi Sejarah dan Peran

Agama dalam Lahirnya Pancasila. Al-Qalam, 26(1), 118.

Rush, J. R. (2017). Adicerita HAMKA (Z. Anshor (trans.)). Gramedia Pustaka

Utama.

S, O. R. danLaurensius A. (2020). Urgensi Pengaturan Badan Pembinaan Idelogi

Pancasila Berdasarkan Undang-Undang Sebagai State Auxiliary Bodies

yang Merawat Pancasila dalam Perspektif Hak Asasi Manusia. Prosiding

Konferensi Nasional Hak Asasi Manusia, Kebudayaan Dan Tujuan Pembangunan

Berkelanjutan Indonesia Pada Masa Pandemi Covid-19: Tantangan Untuk

Keilmuan Hukum Dan SosialUniversitas Pancasila, Jakarta, Volume 1.

Salam, S. (1983). Kenangan-kenangan 70 Tahun Buya HAMKA. Pustaka Panjimas.

Subarkah, M. (2021). Ironi Kisah Hormat Bendera Hingga Sebutan Santri dan Taliban.

Republika.

Sudin. (2011). Pemikiran Hamka Tentang Moral. ESENSIA, XII(2), 225–230.

Susanto. (2023). Proses Pembentukan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika:

Analisis Historis Sidang BPUPKI. Sejarah Indonesia, 45(2), 112–128.

Wartha, I. B. N. (2017). Lahirnya Pancasila Sebagai Sebagai Pemersatu Bangsa

Indonesia. Santiaji Pendidikan, 7(1), 122.

Wisnaeni, A. I. S. D. F. (2019). Hubungan Agama Dan Negara Menurut Pancasila

Dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pembangunan Hukum Indonesia, 1(2), 246




DOI: https://doi.org/10.15548/tajdid.v27i2.9607

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Fakultas Ushuluddin Dan Studi Agama, UIN Imam Bonjol Padang
Jl. Prof. Mahmud Yunus No.1, Lubuk Lintah, Kuranji. 
Kota Padang, Sumatera Barat, 25153
Handphone: +62 8126615808
E-mail: [email protected]