Publish: Rabu, 04 Juni 2025 (Pukul 20.10 WIB)
Penyunting: Devisi Litbang UKM Bengkel Kata
Efektifkah Anak Bermasalah Harus Dibina Di Barak Militer?
Oleh: Avifo Anwar
Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Apa yang salah dengan anak-anak zaman sekarang? Begitulah pertanyaan klise yang berkali-kali kita dengar, tetapi jarang dijawab dengan kejujuran. Kita sering melihat anak-anak yang dianggap “nakal” melawan jika dinasihati, mencibir otoritas, bahkan menantang orang dewasa. Tapi, apakah kita sungguh-sungguh mengerti akar kenakalan mereka? Atau kita hanya gemar menyederhanakan persoalan kompleks sebagai bentuk pembenaran kegagalan kita sebagai orang dewasa? Dulu, katanya, anak-anak nakal itu cukup diberi teguran dan mereka akan patuh karena masih punya rasa hormat. Sekarang? Mereka dianggap tak tahu adab, tak tahu diri, tak tahu sopan santun. Tapi benarkah mereka kehilangan nilai, atau justru kitalah yang kehilangan cara?
Muncul kemudian sosok fenomenal dari Pilkada 2024 di Jawa Barat, yang disebut-sebut sebagai “Bapak Aing”. Ia datang dengan gebrakan. Tak tanggung-tanggung, mulai dari pelarangan wisuda TK hingga SMA, larangan peserta didik membawa kendaraan pribadi, hingga kebijakan yang paling kontroversial: anak-anak “nakal” dikirim ke barak militer. Saya tidak anti-diskiplin. Tapi ketika negara mulai menyelesaikan persoalan sosial dengan pendekatan militer, saya mulai curiga, apakah kita benar-benar mau mendidik anak-anak kita, atau justru kita mulai takut dan menyerah untuk memahami mereka?
Kita harus bicara apa adanya. Program “militerisasi anak nakal” yang dibungkus jargon Gapura Panca Waluya adalah bentuk simplifikasi terhadap masalah yang kompleks. Ya, memang benar, anak-anak harus dididik dengan nilai kedisiplinan, tetapi menjebloskan mereka ke dalam barak militer dengan pola pendidikan semi-otoriter bukanlah jawabannya. Mari kita buka datanya. Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah mengirim ratusan siswa SMA ke barak militer dengan anggaran Rp 3,2 miliar. Tapi kita lupa bertanya: apakah benar masalah anak-anak ini akan selesai hanya dengan baris-berbaris dan push-up 100 kali sehari? Apakah kita pernah menyentuh luka batin mereka, menyelami konflik keluarga, tekanan sosial, atau rasa terasing yang mereka alami sehari-hari?
Mark W. Lipsey (2009) sudah memperingatkan lewat metaanalisisnya bahwa program boot camp militer tidak efektif dalam menurunkan tingkat kenakalan remaja secara jangka panjang. Kita justru berisiko mencetak remaja yang patuh di luar, tetapi memberontak di dalam. Rasa takut bukan akar pendidikan sejati. Mari kita bicara dengan jujur. Anak-anak yang “nakal” itu tidak datang dari ruang kosong. Ada lingkungan yang mencemari, keluarga yang melukai, sistem pendidikan yang membosankan, dan masyarakat yang hipokrit.
a. Lingkungan Toksik
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat yang aman, anak-anak akan mencari “rumah” lain, kadang itu berarti geng, tongkrongan, atau dunia maya. Kekerasan dalam rumah, pengabaian, perceraian, semua itu meninggalkan jejak dalam jiwa anak. Ketika kita menegur mereka di jalan, mereka tak segan membalas, bukan karena tak punya sopan santun, tapi karena luka mereka tak tertampung.
b. Pendidikan yang Salah Arah
Di sekolah, mereka dijejali hafalan, bukan pemahaman. Dihukum karena tidak bisa mengingat, tapi tidak diajak berdialog ketika gagal memahami. Tak heran kalau mencontek dianggap solusi logis, karena sistem menuntut nilai, bukan makna. Sekolah kadang justru menjadi tempat di mana kreativitas dan akhlak dikubur, bukan ditumbuhkan.
c. Pergaulan dan Globalisasi
Remaja mencari makna hidupnya lewat teman sebaya. Di situlah mereka merasa diakui, karena orang dewasa seringkali hanya bicara larangan dan tuntutan. Ditambah dengan globalisasi yang membuka pintu segala pengaruh, anak-anak hari ini hidup dalam kebingungan arah. Dan kita? Masih sibuk menyalahkan mereka daripada membimbing mereka.
d. Pola Pikir Keliru dan Salah Asuh
Anak-anak adalah manusia, bukan robot. Mereka bisa salah berpikir, salah memahami, dan salah bertindak. Tapi apakah kita memberinya ruang untuk salah dan belajar? Atau kita buru-buru menghukum dan melabeli mereka sebagai “nakal” lalu dikirim ke barak?
Kita tidak akan pernah menyelesaikan persoalan anak-anak dengan pendekatan ala komando. Negara tidak boleh menjadi institusi yang takut pada anak-anaknya sendiri. Solusi bukan pada jeruji barak, tetapi pada ruang dialog, cinta, konseling, dan kurikulum yang manusiawi. Kalau kita mau jujur, masalah terbesar bukan pada anak-anak kita, tapi pada orang dewasa yang terlalu malas berpikir dan terlalu cepat marah. Mari kita mulai dari mendengarkan mereka. Sebelum kita kembali mengirim anak-anak ke barak, mungkin sudah saatnya kita mengirim para pembuat kebijakan untuk belajar kembali: bagaimana caranya menjadi orang tua yang baik bagi bangsa ini.

