Publish: Rabu, 14 Mei 2025 (Pukul 12.00 WIB)
Penyunting: Divisi Litbang UKM Bengkel Kata
Bahasa Daerah: Jangan Sampai Cuma Jadi Kenangan!
Oleh: Ghaniy Arrasyid Yandra
Program Studi Sejarah Peradapan Islam, Fakultas Adab dan Humaniora
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Coba jujur, kapan terakhir kali kamu ngobrol pakai bahasa daerah? Bukan yang setengah-setengah atau buat lucu-lucuan di TikTok, tapi benar-benar pakai untuk komunikasi sehari-hari? Kalau kamu harus mikir dulu, atau jawabannya "udah lama banget". Selamat datang di klub besar: Generasi yang (nyaris) lupa bahasa ibunya sendiri. Di tengah gegap gempita globalisasi, di mana semua terasa makin cepat, makin modern, dan makin internasional, bahasa daerah seperti kehilangan panggung. Bahasa yang dulu jadi jembatan antargenerasi, jadi pengikat emosi dalam keluarga, kini perlahan disimpan di laci kenangan. Padahal seperti yang disampaikan Aminudin Aziz (2023), bagi banyak orang Indonesia, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi. tapi adalah identitas, warisan budaya, bahkan cara pandang terhadap hidup itu sendiri.
Kenapa Kita Mulai Lupa?
Ada banyak alasan kenapa bahasa daerah makin tenggelam. Pertama, dominasi bahasa Indonesia yang jadi bahasa resmi di sekolah, kantor, dan ruang publik. Kedua, kehadiran bahasa asing, terutama Inggris, yang kini jadi tiket masuk dunia kerja dan simbol "anak gaul global". Kata Erlin Putri Kusumawarti (2024), belajar bahasa asing itu penting, tapi bukan berarti harus melupakan bahasa sendiri. Sayangnya, yang terjadi sekarang: bahasa asing dilatih, bahasa daerah dilupakan. Lalu, jangan lupa juga soal perubahan gaya hidup dan persepsi. Banyak orang, terutama di kota mulai anggap bahasa daerah itu kampungan, tidak intelek, atau sekadar cocok buat orang tua di kampung. Bahasa daerah jadi seperti baju adat yang cuma dipakai saat upacara, bukan jadi bagian hidup sehari-hari.
Urbanisasi pun ikut main peran. Saat orang-orang dari berbagai daerah pindah ke kota besar dan hidup berdampingan dengan suku bangsa lain, bahasa Indonesia otomatis jadi bahasa penghubung. Bahasa daerah akhirnya hanya bertahan di rumah, dan itu pun makin jarang diucapkan. Anak-anak lahir dan tumbuh dengan bahasa Indonesia, kadang ditambah bahasa Inggris, tapi tidak lagi dengan bahasa daerah orang tuanya. Dan jangan lupa satu hal penting: sekolah. Banyak sekolah masih memperlakukan bahasa daerah seperti mata pelajaran pinggiran. Kalau pun ada, hanya sebatas “muatan lokal” di SD atau SMP, itu pun kadang tidak serius dikelola. Lisa Anggriani (2017) bahkan menyebut, penggunaan bahasa daerah di sekolah hampir tidak terdengar. Apa jadinya kalau generasi penerus tidak pernah diajari berbicara dalam bahasa daerah mereka sendiri?
Lalu, Apa Pentingnya?
Bahasa daerah bukan hanya soal nostalgia atau romantisme masa lalu. Ia adalah penjaga kearifan lokal, pembawa nilai-nilai leluhur, dan penanda jati diri sebuah komunitas. Mariam Ulfa (2019) mengingatkan bahwa bahasa adalah bagian dari budaya, dan budaya adalah napas dari sebuah bangsa. Kalau napasnya hilang, ya tinggal raga yang tak bernyawa. Bayangkan saja: berapa banyak peribahasa, cerita rakyat, doa, mantra, dan petuah nenek moyang yang hanya bisa dimengerti jika kita menguasai bahasa daerah? Kalau bahasa itu punah, semua itu ikut terkubur.
Waktunya Bangkit, Bro & Sis!
Jangan tunggu sampai UNESCO datang dan bilang, “Bahasa daerahmu sudah resmi punah.” Yuk, mulai dari hal kecil. Ajak keluarga ngobrol pakai bahasa daerah. Tonton film atau dengarkan lagu daerah. Desak sekolah dan pemerintah daerah untuk serius mengajarkan bahasa lokal. Dan buat kamu yang kreatif, kenapa nggak bikin konten lucu, puisi, atau cerita horor pakai bahasa ibumu? Karena pelestarian bahasa bukan cuma tugas orang tua atau ahli bahasa. Ini tugas kita semua, generasi yang konon paling melek teknologi, paling kreatif, dan paling global. Buktikan kalau jadi anak muda keren itu nggak harus meninggalkan akar budaya. Kita bisa speak English fluently, tanpa melupakan baso awak dek urang tuo. Ingat, kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?

