Sistem Pakar Berbasis AI untuk Penjaminan Mutu dan Manajemen Akreditasi
di Perguruan Tinggi
Mutu pendidikan tinggi merupakan salah satu pilar utama dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dan kompetitif di era global. Perguruan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memastikan kualitas dalam aspek penelitian, pengabdian masyarakat, tata kelola, dan manajemen mutu. Akreditasi menjadi instrumen resmi yang berfungsi menilai sejauh mana suatu perguruan tinggi atau program studi memenuhi standar yang ditetapkan, serta berimplikasi langsung terhadap reputasi, kepercayaan publik, peluang kerja sama, dan akses pendanaan. Dalam konteks kebijakan nasional, pemerintah Indonesia menegaskan pentingnya penjaminan mutu melalui Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi, yang mewajibkan perguruan tinggi melaksanakan siklus penjaminan mutu internal secara berkesinambungan, mulai dari penetapan standar, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian, hingga peningkatan mutu. Regulasi ini menuntut perguruan tinggi mampu beradaptasi terhadap dinamika instrumen akreditasi dan integrasi sistem mutu agar tetap relevan dengan kebutuhan nasional dan internasional.
Meskipun kerangka regulasi telah tersedia, penelitian menunjukkan bahwa implementasi penjaminan mutu di perguruan tinggi masih menghadapi banyak kendala. Studi di Universitas Gadjah Mada mencatat bahwa keterbatasan jumlah auditor internal, lemahnya komitmen pimpinan, dan kecenderungan kegiatan mutu hanya menjadi rutinitas administratif tanpa evaluasi mendalam, masih menjadi hambatan signifikan dalam penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Hambatan lain terlihat dalam penelitian tentang Pengembangan Sistem Informasi untuk Akreditasi Program Studi, yang menegaskan bahwa transisi ke Instrumen Akreditasi Program Studi (IAPS) 4.0 masih menyulitkan banyak program studi karena keterbatasan integrasi data, akses dokumen, dan kesiapan teknologi pendukung.
Lebih jauh, beberapa penelitian telah mencoba menawarkan solusi berbasis teknologi, namun masih terbatas pada aspek tertentu. Misalnya, penelitian yang mengembangkan Model Sistem Pakar Fuzzy Logic Method untuk Menentukan Status Akreditasi di Universitas Kristen Satya Wacana menunjukkan bahwa sistem pakar dapat membantu proses penentuan status akreditasi secara lebih efisien, tetapi hanya pada skala terbatas, dengan variabel input yang sederhana dan belum menyentuh aspek prediktif atau rekomendatif yang lebih adaptif .Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian masih bersifat reaktif, berfokus pada pengolahan dokumen dan penilaian status akreditasi, belum pada analisis prediktif maupun pemberian rekomendasi perbaikan mutu secara otomatis.
Kondisi tersebut menimbulkan kesenjangan nyata antara kebutuhan dan solusi yang tersedia. Banyak perguruan tinggi masih menghadapi masalah data yang tersebar di berbagai unit, keterbatasan kompetensi sumber daya manusia, dan lambatnya pengambilan keputusan dalam perbaikan mutu. Akibatnya, proses akreditasi menjadi lamban, memerlukan biaya besar, serta berpotensi menurunkan reputasi institusi ketika standar akreditasi tidak tercapai secara optimal. Padahal, jika sistem informasi yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan dapat diterapkan, perguruan tinggi akan memperoleh manfaat besar berupa efisiensi waktu, peningkatan akurasi data, serta kemampuan untuk secara proaktif mengantisipasi kelemahan mutu sebelum proses akreditasi eksternal berlangsung.
Berdasarkan fenomena tersebut, penelitian ini diarahkan untuk merancang sistem pakar berbasis AI yang dapat mendukung penjaminan mutu dan manajemen akreditasi di perguruan tinggi. Sistem ini diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai alat administratif untuk mengelola dokumen, tetapi juga mampu melakukan analisis prediktif kesiapan akreditasi, mengidentifikasi area kelemahan mutu, dan memberikan rekomendasi perbaikan berkelanjutan sesuai regulasi terbaru. Dengan demikian, sistem ini akan berkontribusi terhadap tercapainya mutu pendidikan tinggi yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global.

