Muhammad Naufal Azzaahid

Publish: Rabu, 12 Juni 2025 (Pukul 23.20 WIB)
Penyunting: Devisi Litbang UKM Bengkel Kata 

Ngubek-Ngubek: Tradisi Unik di Kerinci Jambi pada Bulan Ramadhan

Oleh: Muhammad Naufal Azzaahid
Program Studi Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

 

Setiap daerah di Indonesia punya caranya sendiri dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Di Kerinci, Jambi, masyarakat memiliki sebuah tradisi unik yang disebut Ngubek-Ngubek. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan bersih-bersih rumah menjelang Ramadhan, tetapi menjadi simbol pembersihan jiwa dan penguatan ikatan sosial dalam bingkai budaya lokal. Ngubek-Ngubek bukanlah rutinitas domestik biasa. Kegiatan ini melibatkan seluruh anggota keluarga bahkan masyarakat sekitar untuk membersihkan rumah, mempercantik lingkungan, dan memasang dekorasi khas seperti lampu dan bendera. Lebih dari sekadar estetika, tradisi ini sarat makna spiritual dan sosial yang lekat dengan kehidupan masyarakat Kerinci.

Makna dalam Setiap Gerakan

Pertama, Ngubek-Ngubek dipahami sebagai bentuk pembersihan lahir dan batin. Seperti halnya rumah yang dibersihkan dari debu dan kotoran, hati manusia pun perlu disucikan dari niat buruk dan pikiran negatif menjelang Ramadhan. Ini sejalan dengan pandangan ahli psikologi dari Universitas Indonesia yang menilai bahwa kegiatan seperti ini mampu meningkatkan kesadaran spiritual masyarakat secara kolektif. Tradisi ini menjadi ritual transisi, dari kehidupan sehari-hari menuju kesalehan yang lebih intensif selama bulan puasa.

Kedua, tradisi ini memperkuat kebersamaan dan solidaritas sosial. Ngubek-Ngubek dilakukan tidak hanya oleh satu rumah, tapi bersama-sama oleh warga dalam satu kampung. Gotong royong dalam membersihkan, saling membantu dalam menghias, hingga berbagi makanan kecil menjadi bukti nyata bahwa budaya ini mempererat hubungan sosial. Dalam suasana penuh semangat kebersamaan ini, masyarakat Kerinci menunjukkan bahwa nilai sosial tak pernah terlepas dari nilai spiritual.

Ketiga, Ngubek-Ngubek juga menjadi bentuk penghormatan terhadap datangnya Ramadhan. Masyarakat Kerinci memaknai bulan puasa bukan sekadar momentum keagamaan, tapi juga momen perenungan dan syukur atas nikmat hidup. Dengan menghias rumah dan memperindah lingkungan, mereka menunjukkan antusiasme sekaligus rasa hormat terhadap bulan yang dianggap suci ini.

Bukan Sekadar Tradisi, Tapi Identitas Budaya

Ngubek-Ngubek bukan sekadar tradisi tahunan. Ia telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Kerinci. Dalam era globalisasi, ketika nilai-nilai lokal sering terpinggirkan, menjaga dan melestarikan tradisi seperti ini menjadi penting. Tradisi ini mengajarkan kita bahwa spiritualitas tidak harus hadir dalam bentuk ibadah formal semata, tapi bisa diwujudkan dalam tindakan sehari-hari yang sederhana namun bermakna.

Ngubek-Ngubek adalah contoh konkret bagaimana nilai-nilai spiritual, sosial, dan budaya berpadu harmonis dalam kehidupan masyarakat lokal. Tradisi ini membuktikan bahwa penyambutan Ramadhan tidak melulu soal ibadah individual, tapi juga tentang bagaimana komunitas saling merawat, menyucikan, dan menguatkan. Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi seperti Ngubek-Ngubek adalah penanda bahwa kita masih punya akar, dan akar itu tidak boleh dilupakan.