Pacaran di Kampus: Lebih Sering Mengganggu

Pacaran di Kampus: Lebih Sering Mengganggu daripada Menyemangati

Oleh: Selviani Agustin

Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Di banyak kampus, pemandangan mahasiswa berpacaran sudah biasa: makan berdua di kantin, menunggu di depan kelas, atau menemani begadang mengerjakan tugas. Bagi sebagian orang, pacaran adalah sumber semangat. Bagi yang lain, ia awal dari nilai yang menurun dan skripsi yang terbengkalai. Jadi, mana yang benar? Menurut saya, bagi mahasiswa yang belum matang secara emosional dan finansial, pacaran lebih sering mengganggu studi daripada menyemangatinya. Ia baru bisa menjadi penyemangat bila dijalani dengan kedewasaan dan batasan yang jelas.

Memang ada yang berpendapat bahwa pacaran memberi dukungan emosional: ada yang mengingatkan shalat, menemani belajar, dan memberi semangat saat penat. Pendapat ini tidak sepenuhnya keliru. Namun dukungan seperti itu juga bisa diperoleh dari sahabat, keluarga, organisasi, atau komunitas belajar, tanpa risiko konflik dan patah hati yang menyertai pacaran. Semangat yang bergantung pada satu orang juga rapuh. Ketika hubungan retak, semangat ikut runtuh.Pertama, pacaran menyita waktu dan pikiran. Kuliah terlewat karena menjemput pasangan, tugas menumpuk karena bertengkar lewat chat, dan fokus terpecah oleh pesan yang harus segera dibalas. Uang saku pun terkuras untuk makan bersama, jalan-jalan, hingga hadiah, padahal banyak mahasiswa masih bergantung pada kiriman orang tua yang berjuang membiayai kuliah.

Kedua, ada risiko emosional yang nyata. Putus cinta di tengah semester dapat mengguncang fokus dan kesehatan mental. Mahasiswa sulit tidur, kehilangan motivasi, dan menarik diri dari pergaulan. Di usia yang emosinya masih bergejolak, kemampuan mengelola konflik belum tentu matang. Hubungan yang posesif dan mengekang bahkan membuat mahasiswa kehilangan ruang untuk berkembang. Ketiga, banyak yang berpacaran bukan karena siap. Sebagian melakukannya karena takut dianggap tidak laku atau ikut-ikutan teman. Media sosial memperkuat tekanan itu lewat unggahan pasangan yang tampak sempurna. Hubungan pun dijalani demi citra, dan energi yang seharusnya untuk belajar habis untuk menjaga tampilan.

Dari sisi nilai, lingkungan kita memegang norma agama dan budaya. Dalam Islam, hubungan lawan jenis memiliki batasan untuk menjaga kehormatan dan mencegah mudarat. Karena itu, mahasiswa yang memilih menahan diri atau menuju ta'aruf tidak pantas dicap kuno. Itu pilihan yang punya dasar dan patut dihormati. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan? Pertama, tetapkan prioritas: studi, amanah orang tua, dan cita-cita tidak boleh dikorbankan. Kedua, kenali tanda hubungan yang tidak sehat, seperti posesif, mengekang, atau membuat prestasi menurun, dan berani berhenti. Ketiga, kampus perlu menyediakan layanan konseling agar mahasiswa punya tempat bercerita, bukan memendam masalah sendirian.

Pada akhirnya, pertanyaan "penyemangat atau pengganggu" bermuara pada satu ukuran yang jujur: apakah hubungan ini membuat saya menjadi versi yang lebih baik, atau justru lebih buruk? Jika jawabannya yang kedua, sudah saatnya mahasiswa menimbang ulang, sebab masa depan tidak menunggu urusan hati selesai.