Publish: Rabu, 16 April 2025 (pukul 20.27 WIB)
Penyunting: Divisi Litbang UKM Bengkel Kata
Terlalu Terbuka, Terlalu Bahaya!
Oleh : Yuwanda Efrianti
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Selamat datang di era di mana perhatian publik adalah mata uang, dan swipe-up jadi cara tercepat untuk “merasa hidup.” Di balik gemerlapnya konten yang berseliweran tiap detik, muncul satu kebiasaan yang makin jadi budaya digital baru: oversharing. Sebuah fenomena ketika batas antara ruang privat dan publik dilumat habis oleh keinginan untuk “dilihat.” Remaja adalah aktor utama dalam panggung ini. Bukan sekadar berbagi cerita, tapi berburu validasi like, komen, dan share yang kini lebih memuaskan ketimbang percakapan nyata. Sekilas tampak remeh. Tapi jika ditilik lebih dalam, ini bukan hanya soal eksistensi digital. Ini cermin dari lemahnya literasi digital dan krisis identitas sosial.
Oversharing bukan tentang berbagi kabar gembira atau curhat sesekali. Ini tentang menjadikan konflik pribadi sebagai tontonan publik, mengunggah lokasi real-time tanpa pikir panjang, atau membuka luka batin untuk dikomentari orang asing. Semua dilakukan demi satu hal: pengakuan. Ironisnya, generasi yang disebut digital native justru sering kali buta arah di dunia maya. Mereka bisa mengedit video dengan mulus, tapi tak sadar bahwa satu story bisa jadi awal dari pencurian data, cyberbullying, bahkan jerat hukum. Privasi kini jadi komoditas murah. Risiko? Urusan nanti.
Lebih parah lagi, algoritma media sosial dirancang untuk mengeksploitasi sisi rapuh manusia: keinginan untuk dianggap penting. Konten yang memicu emosi, drama, dan kontroversi justru paling viral. Tak heran jika banyak remaja berlomba-lomba menjadikan hidupnya sebagai “reality show gratis.” Dan ketika like tak kunjung datang? Cemas. Minder. Merasa tidak berarti. Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan buruk, ini alarm. Oversharing membuka pintu bagi predator digital, mempersempit ruang aman, dan menjerumuskan remaja pada pencitraan semu. Tak jarang, demi terlihat sempurna, mereka menghapus jati diri asli dan menggantinya dengan versi “filteran” demi diterima publik.
Lantas, harus bagaimana? Solusinya bukan sekadar “jangan posting sembarangan.” Kita butuh revolusi literasi digital yang tak hanya mengajarkan cara pakai aplikasi, tapi juga cara berpikir kritis, menjaga etika, dan mengelola emosi di tengah tekanan eksistensi online. Sekolah harus masuk lebih dalam, keluarga perlu terlibat, dan platform digital wajib bertanggung jawab. Remaja harus paham: tak semua hal layak dibagikan. Privasi adalah kekuatan, bukan kelemahan. Dan pengakuan sejati tak diukur dari jumlah followers, tapi dari seberapa sadar kita menjaga diri di dunia yang makin terbuka. Karena di era digital ini, bukan hanya gadget yang butuh upgrade, tapi juga kesadaran kita.

