Publish: Rabu, 16 April 2025 (pukul 20.27 WIB)
Penyunting: Divisi Litbang UKM Bengkel Kata
Yura Aku Sadar! Dari Tayangan Clash of Champions 2024 ini : Cintamu Boleh Gagal, Tapi Karirmu Jangan!
Oleh: Taufiq Hidayat
Program Studi Tadris IPS, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
E-mail : [email protected]
Dalam menyusun masa depan, karir merupakan aspek terpenting dalam hidup seseorang. Karena memiliki tujuan jangka panjang yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan latar belakang pendidikannya. Karir bukan sekedar untuk mencari uang demi memenuhi kebutuhan hidup. Namun karir ini lebih dari itu, sebab berkaitan dengan minat seseorang terhadap jenis keahlian yang dipilih untuk menjadi profesional. Jadi, karir adalah segala aktivitas dalam menyelesaikan tugas tanpa adanya rasa takut. Sekaligus mendorongnya untuk mengambil resiko yang mempengaruhi kehidupannya sendiri dan hajat hidup orang banyak.
Setiap orang memiliki dorongannya masing-masing dalam menentukan karirnya. Dorongan tersebut dapat datang dari dalam dirinya atau dari lingkungannya. Faktor dari lingkungan ini banyak sekali, seperti: teman sebaya, orang tua, hingga tontonan sehari-hari dari berbagai media sosial. Salah satunya yang lagi viral kini adalah pertunjukkan show bernama Clash of Champions 2024 by Ruangguru. Ini merupakan wadah untuk mengadu kecerdasan mahasiswa Indonesia yang berasal dari berbagai perguruan tinggi, baik yang ada di dalam negeri dan di luar negeri. Mahasiswa dari perguruan tinggi dalam negeri diantaranya adalah UI, ITB, UGM, IPB, UB, ITS, Unpad, Unand, Unair, Undip, Binus, Unud, dan UIN Syarif Hidayatullah. Sedangkan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di kampus luar negeri adalah Oxford, NUS, KAIST, NTU, Yale, UC San Diego, dan SUTD.

Gambar 1. Peserta Clash of Champions by Ruangguru
(Sumber: Instagram Ruangguru)
Warganet banyak yang menilai bahwa pertunjukkan show Clash of Champions ini mirip dengan University War yang sudah tayang di Korea Selatan pada tahun 2023 yang lalu. Dengan mengusung konsep yang serupa, ajang ini mempertemukan mahasiswa terbaik Indonesia yang akan saling berkompetisi dalam menghadapi tantangan adu kecerdasan. Fakta uniknya tiap peserta ini berasal dari jurusan yang berbeda-beda dan memiliki IPK yang sempurna. Sekaligus masing-masing peserta memiliki berbagai prestasi dan pengalaman organisasi, magang, student exchang, hingga volunter yang beragam.
Persaingan antar mahasiswa ini menimbulkan beragam reaksi dari warganet. Benarkah program ini membuat mahasiswa Indonesia minder? atau sebaliknya? Jawabannya adalah mungkin, sebab bagi mahasiswa yang berasal dari ilmu sains. Mereka merasa program ini sangat berguna dalam menentukan karirnya. Sebab tiap peserta Clash of Champions memiliki portofolio yang bagus, sehingga membuat mereka termotivasi untuk lebih semangat lagi dalam menjalani pendidikannya. Namun bagi yang tidak menyukai angka dan lebih suka mempelajari ilmu sosial atau humaniora. Kemungkinan mereka merasa minder dengan peserta Clash of Champions yang amat jenius ini. Misalnya pada akun TikTok @indysney yang menjelaskan:“Semakin kulihat episode Clash of Champions Ruangguru, semakin aku merasa diriku hanyalah butiran debu, pengisi bangku kosong di kampus, dan pelengkap ekosistem di dunia perkuliahan ini”.
Lalu netizen lain juga mengutarakan hal yang sama, seperti pada akun @vanillalattee yang menjelaskan:“Aku abis nonton Clash of Champions langsung mikir, dulu aku kuliah cuma nambah-nambahi mahasiswa di kampus aja”.
Namun di sisi lain, sebagian warganet lebih terinspirasi dengan tayangan Clash of Champions ini. Hal ini tidak hanya berlaku pada mahasiswa saja, tetapi untuk orang tua juga. Misalnya pada akun Instagram @hanifanrsa yang menyatakan:“Ketika melihat anakku sedang asik bermain game, aku langsung spontan untuk menggantikannya dengan permainan edukatif”.
Dilansir dari akun Youtube Denny Sumargo yang mengundang beberapa peserta Clash of Champions, mereka mengatakan bahwa orang tua sangat berperan penting dalam kecerdasan anak. “Orang tua tidak bisa mewariskan harta, tapi mereka bisa mewariskan pendidikan” ujar Xaviera Puti Adianingsih, salah satu peserta Clash of Champions dari KAIST.
“Orang tuaku mengajari untuk selalu mengucapkan afirmasi positif kepada diri sendiri, seperti aku cantik, aku sempurna, aku sehat, dan lainnya. Lalu orang tua aku juga selalu dukung anaknya terlepas dari apapun hasilnya nanti. Karena di mata mereka aku sudah mengusahakan yang terbaik, sisanya itu sudah kendali Tuhan”, ucap Shakira peserta dari kedokteran UI.
Dari contoh di atas, maka para orang tua sadar mengenai pentingnya pendidikan pada anak. Karena dengan pengetahuan dan keterampilan yang unggul itu lebih berharga dari yang lain. Selanjutnya tiap peserta Clash of Champions memiliki strategi tersendiri untuk memecahkan soal. Hal ini dapat terlihat dari mereka yang sudah terbiasa dalam menjawab soal yang sulit dengan durasi waktu yang cepat. Karakter seperti ini mereka peroleh karena sudah dilatih untuk giat belajar, disiplin, dan ulet sejak SD. Seperti Axel dan Sandy yang sudah terbiasa dengan games matematika yang bernama cryptarithm.
Kemudian tiap peserta Clash of Champions ini memiliki sikap makin percaya diri. Hal ini dapat terlihat pada tiap peserta yang tidak menyerah dengan keadaan. Contohnya ketika mengetahui portofolio tiap peserta yang memiliki prestasi di olimpiade maupun mereka yang berasal dari kampus ternama. Sebab tiap peserta percaya bahwa perbedaan tersebut bukan halangan untuk mereka menjadi pemenang. Sekaligus dengan adanya Clash of Champions ini telah mengubah pandangan generasi muda Indonesia tentang standar untuk menilai orang lain, bahwa pendidikan tak kalah penting dengan penampilan. Sebab dengan penampilan saja tidak dapat membangun value seseorang, namun diperlukan kecerdasan yang mumpuni.
Gambar 2. Shakira juara Clash of Champions by Ruangguru
(Sumber: Youtube.com Ruangguru)
Selama berlangsungnya game show ini, Shakira mengalami dua kali tereliminasi. Pertama, pada saat melawan tim kenji di segmen memory madness (menghafal detail dari 100 lukisan). Kedua, pada tantangan invisible maze. Meskipun sudah dua kali tereliminasi, Shakira tetap fokus dan mampu bangkit pada dua kali kesempatan revival, yaitu: revival challenge dan ultimate revival canvas conquest. Pada babak final yang dilaksanakan tanggal 17 Agustus 2024 yang lalu. Shakira bertarung sengit melawan Axel, terutama pada tantangan terakhir sebagai penentu kemenangan. Ternyata pada babak penentu ini, Shakira unggul dari Axel.
Kemudian peserta finalis lainnya masuk ke dalam arena menghampiri Shakira untuk merayakan kemenangannya. Shakira memperoleh trofi, logam mulia, dan beasiswa sebagai tanda kemenangannya dari Ruangguru. Hadiah tersebut diserahkan langsung oleh Belva Devara dan Imam Usman selaku pendiri Ruangguru. Shakira mengaku Clash of Champions ini adalah salah satu perlombaan terberat untuknya. Namun, ia tak menyangka dapat menjadi pemenang dan bertemu lagi dengan teman-teman lama ketika masih ikut olimpiade. Dan Shakira juga menjelaskan Clash of Champions ini adalah kompetisi yang sehat baginya.
Pelajaran yang dapat diambil dari kompetisi Clash of Champions by Ruangguru ini dalam mengembangkan karir adalah jangan takut gagal. Terbukti bagaimana upaya yang diperlihatkan oleh Shakira sebagai sang juara. Layaknya kata mutiara dari presiden Soekarno bahwa “gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang".
Jadi jangan takut untuk mencoba, jika gagal setidaknya kita telah menunjukkan kemampuan kita secara maksimal yang kita punya. Sekaligus kita sudah berada diantara orang-orang hebat. Kemudian untuk menjadi seperti mereka, kita harus menguatkan diri bahwa kita bisa dengan menekankan disiplin. Seperti Nabil, Axel, Sandy, kevin, Hanif, dan Shakira yang dapat mewakili Indonesia dalam olimpiade. Karena mereka sejak kecil sudah konsisten untuk fokus belajar. Serta bagaimana mereka dapat mengapresiasi dirinya tanpa harus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.
Dari Najwa Nur Awalia atau yang akrab dipanggil dengan Nana, yaitu mahasiswa UGM. Dapat kita petik pelajaran dari kisahnya, bahwa Nana pernah gagal 20 kali tapi tidak capek dan mudah menyerah untuk terus mencoba. Karena dia yakin dengan belajar dari kesalahan sebelumnya menjadi kunci keberhasilan. Hal itu ia buktikan dengan memperoleh juara 2 mahasiswa berprestasi pada Pilmapres Nasional 2024 yang digelar di Universitas Negeri Gorontalo, dan lulus program conference di NUS (National University of Singapore). Lalu ada Brian, yaitu mahasiswa kedokteran UGM yang gagal program IISMA dari Kemendibudristek. Meskipun sudah banyak uang yang dikeluarkan untuk tes dan try out. Tapi Brian memaknai arti sebuah kegagalan adalah “Aku melihat itu sebuah pengalaman, bukan berapa banyak gagalnya tapi bagaimana kita dapat dari kegagalan itu dan bagaimana kita berusaha untuk bangkit”.
Kemudian pada tayangan Youtube Brain Academy Ruangguru, yaitu kadit mahasiswa ITB yang juga menjelaskan bahwa kegagalan adalah “Dengan segala apapun yang kita korbankan tapi hasilnya belum maksimal. Maka percayalah Allah itu adil dan tetap bersama kita sebagai hambanya. Karena kegagalan yang kita rasakan itu di mata Allah adalah tidak pantas buat kita, tetapi Allah memberi tanda bahwa ada hal baik yang seharusnya kamu dapatkan dibandingkan kegagalan kamu tadi”. Dari Kadit ini, kita sadar bahwa kita harus selalu dekat dengan Tuhan yang Maha Esa. Bukan berarti apa yang kita raih itu adalah murni usaha kita. Sekaligus juga mengajarkan arti tentang ikhlas, sabar, dan bersyukur. Tanpa itu kita hidup tidak bermakna karena selalu dipengaruhi ambisi dan hawa nafsu.
Dari Clash of Champions yang sedang viral ini, maka penulis menyadari bahwa fokus dalam berkarir lebih berkelas dibandingkan mengejar cinta. Jika mengagumi seseorang maka kejarlah masa depannya. Jadikan ia sebagai motivasi untuk semangat menjalani hidup. Meskipun nantinya tidak bersama, setidaknya sudah menjadi bagian dari ceritanya. Karena cinta yang berkelas bukan tentang bagaimana memilikinya. Namun bagaimana kedua pasangan tersebut dapat menyetarakan standar hidupnya agar layak. Konsisten dalam meningkatkan skill merupakan privilege di masa depan. Jadi jangan ragu untuk berproses dalam memperbaiki diri.

