Pandalungan as a Social Identity: Identity Construction, Migration, and Cultural Negotiation in Jember

Vivi Sri Rafika Umroh, Kunawi Basyir

Abstract


This article examines the construction of Pandalungan cultural identity in Jember as a product of interaction, acculturation, and cultural negotiation between the Madurese and Javanese communities. Employing a qualitative approach with an acculturative anthropological perspective, the study explores how migration, social interaction, social construction, cultural acculturation, and identity negotiation have shaped the formation of Pandalungan identity. Data were collected through in-depth interviews with cultural figures, historians, and community leaders representing the Pandalungan community in Jember, complemented by a review of relevant literature. The analysis draws upon Peter L. Berger's theory of social construction, the cultural acculturation models of the Melting Pot and Salad Bowl, and Homi K. Bhabha's concept of cultural hybridity. The findings reveal that the social construction of Pandalungan culture has evolved through Berger's three dialectical processes-externalization, objectification, and internalization-resulting in a hybrid culture with distinctive characteristics reflected in language, social traditions, religious rituals, social structures, and shared values. Furthermore, the official declaration of Jember as the "City of Pandalungan" in 2016 reinforced the social and cultural legitimacy of this identity within the local community. The study concludes that Pandalungan culture is not merely the outcome of cultural acculturation but represents a dynamic, negotiated, and evolving cultural identity that continues to adapt to social transformation and modernization within contemporary society.

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konstruksi identitas budaya Pandalungan di Jember sebagai hasil interaksi, akulturasi, dan negosiasi budaya antara masyarakat Madura dan Jawa. Penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan antropologis akulturatif ini menjelaskan bagaimana proses migrasi, interaksi dan konstruksi sosial, akulturasi budaya serta negosiasi identitas berlangsung antara masyarakat Madura dan Jawa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan antropologis dan fokus pada kajian akulturasi budaya. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan tokoh budaya, sejarawan, dan tokoh masyarakat Pandalungan di Jember, serta didukung oleh studi literatur yang relevan. Analisis penelitian menggunakan teori konstruksi sosial Peter L. Berger, teori akulturasi budaya Melting Pot dan Salad Bowl, serta konsep hibriditas Homi K. Bhabha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi sosial budaya yang terjadi antar masyarakat migran berlangsung melalui tiga tahap dialektika yaitu eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi yang mampu menciptakan budaya hybrid dengan karakteristik dan khas dalam aspek bahasa, tradisi sosial, ritual keagamaan, struktur dan nilai sosial. Selain itu, deklarasi Jember sebagai "Kota Pandalungan" pada tahun 2016 semakin memperkuat legitimasi sosial dan kultural identitas tersebut dalam masyarakat. Dengan demikian budaya Pandalungan bukan hanya sekadar hasil akulturasi budaya semata, tetapi juga sebuah identitas budaya yang bersifat dinamis, negosiatif, dan mampu berkembang mengikuti perubahan sosial masyarakat serta modernisasi di era kontemporer dalam ruang sosial masyarakat.

Keywords


Social Construction; Cultural Acculturation; Pandalungan; Cultural Identity; Cultural Hybridity.

References


Ahmad, Z. (2015). Menelusuri Jejak Sejarah Jember Kuno (1st ed.). Araska Publisher.

Akhiyat, & Fadlillah, A. (2023). Seeking the History od Pendalungan Culture, a Distinctive Study of Local Cultural History in the History and Islamic Civilization Program of UIN KHAS Jember. Jurnal As-Salam, 07, no 02.

Berger, P. L., & Luckmann, T. (1991). The Social Construction of Reality (6th ed.). Penguin Group.

Berray, M. (2019). A Critical Literary Review of the Melting Pot and Salad Bowl Assimilation and Integration Theories. Journal of Ethnic and Cultural Studies, 06, no 01.

Bhabha, K. H. (1994). The Location of Culture. Routledge.

Burhan Arifin, E. (2012). Developing City of Jember and the Emergence of Culture Pandhalungan. Jurnal Literasi, 02, no 01.

Cahyono, H. B., Kurniawan, R. A., & Darwin, N. (2021). Akulturasi Budaya Pandalungan dalam Pandangan Remaja Milenial Jember. Mediakom Jurnal Ilmu Komunikasi, 05, no 01.

Farid, A., & Subahri, B. (2021). Ajem Pekang Analisis Pesan Dakwah pada Tradisi Masyarakat Pandalungan di Desa Ranuyoso. Dakwatuna Jurnal Dakwah Dan Komunikasi Islam, 07, no 02.

Geertz, C. (1992). Kebudayaan dan Agama. Kanisius Publisher.

Geertz, C. (2014). Agama Jawa, Abangan, Santri, Priyayi dalam Kebudayaan Jawa (2nd ed.). Kopmunitas Bambu.

Ilham, M. (2024). Orang Pendalungan (1st ed.). Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Irastorza, N., & Osanami Torngren, S. (2022). Melting Pot or Salad Bowl? An Overview of Mixed Families in Sweden. Journal of Critical Mixed Race Studies, 01, no 02.

Karimah, S., Nurhayati, I., Sumiati, & Rahman, M. (2023). Penguatan Edukasi Moderasi Beragama Melalui Kesenian Mamacah sebagai Kearifan Lokal Madura. Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran, 06, no 04.

Kuntowijoyo. (2017). Perubahan Sosial pada Masyarakat Agraris Madura 1850-1940 (pertama). IRCiSoD Publisher.

Liliweri, A. (2009). Prasangka dan Konflik Komunikasi Lintas Budaya masyarakat Multikultural (2nd ed.). LKiS Publisher.

Moleong, L. J. (2011). Metode Penelitian Kualitatif. Remaja Rosda Karya.

Muwaffiqillah, M. (2023). Analisis Teoritik Atas Tulisan Geertz Tentang Kyai Jawa Sebagai Cultural Broker. Indonesian Journal of Humanities and Social Sciences, 04.

Prayogi, B., & Maryam Oktavia, C. (2022). Genealogi Masyarakat Madura dan Jawaa Studi Budaya Pendhalungan di Kabupaten Jember. Habitus Jurnal Pendidikan Sosiologi Dan Antropologi, 06, No 02.

Rahmadana, M. F. (2020). Teori-teori Tentang Wilayah dan Migrasi (1st ed.). CV Pena Persada.

Ramdana, Maria Fatimah, J., & Farid, M. (2022). Komunikasi Antarbudaya dalam Masyarakat Multikultur (Studi Pada Masyarakat Etnik Jawa dan Bali di Desa Balirejo). Komunida Jurnal Media Komunikasi Dan Dakwah, 12, no 01.

Saputri, L. (2019). Pengaruh Budaya Pandalungan pada Bentuk Penyajian Kesenian Can Macanan Kadduk. Jurnal Invensi, 04, no 02.

Sasmita, N. (2019). Menjadi Kota Definitif Jember Abad 19-20. Jurnal Historia, 01, no 02.

Soerjono, S. (1990). Sosiologi Suatu Pengantar. Raja Grafindo Persada.

Susanto, T., Riko Saputra, M., Septyono, E. A., & Yunanto, R. A. (2022). Development of Psychometrics for Adolescents’ Care Based on the Local Wisdom of the Pandalungan Family in Indonesia. Central European Journal of Paediatrics, 18, no 01.

Tovar Galvez, J. C. (2022). Acculturation in the Integration Course for Immigrants in Germany, a Study from the Cultural Bridge Approach. Journal of Ethnic and Cultural Studies, 09.o 03.

Wagener, A. (2009). Inthe Melting Pot, Integration, Assimilation, and Uniform Societies. Institute of Social Policy, University of Hannover, 01.

Zamroni, M. (2021). Tradisi Pandhalungan, Nilai Nusantara, dan Pertalian Kebudayaan di Masyarakat Jember. Medan Resource Center, Islam and Comtemporary Issues, 01, no 1.




DOI: https://doi.org/10.15548/al-adyan.v7i1.13611

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2026 Vivi Sri Rafika Umroh, Kunawi Basyir

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Departement Religious Studies of The Faculty Ushuluddin and Religious Studies State Islamic University Imam Bonjol Padang
Kampus III Sungai Bangek, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Kode pos 25171
E-mail: [email protected]


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.