Literasi Cyber Religion Membentuk Kesadaran Beragama pada Generasi Z (Studi Fenomenologi pada Pelajar MAN dan SMAN di Kota Pariaman)

Fitriani Ayu Lestari, Emeraldy Chatra, Rahmi Surya Dewi

Abstract


Perkembangan teknologi digital telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk praktik dan pemahaman keagamaan. Generasi Z sebagai kelompok yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan digital menjadikan internet sebagai salah satu sumber utama informasi keagamaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengalaman literasi cyber religion, kesadaran beragama generasi Z, serta makna pengalaman literasi cyber religion dalam membentuk kesadaran beragama pelajar MAN dan SMAN di Kota Pariaman. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi Alfred Schutz. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap sepuluh informan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi Z memanfaatkan media sosial, YouTube, dan berbagai platform digital sebagai sumber pembelajaran agama. Literasi cyber religion mendorong mereka tidak hanya menjadi konsumen informasi agama, tetapi juga melakukan proses seleksi, verifikasi, dan interpretasi terhadap informasi yang diperoleh. Pengalaman tersebut menghasilkan kesadaran beragama yang lebih personal, reflektif, dan mandiri dibandingkan pola keberagamaan yang diwariskan keluarga. Dalam perspektif fenomenologi Alfred Schutz, pengalaman literasi cyber religion membentuk stock of knowledge baru yang memengaruhi cara generasi Z memahami, mempraktikkan, dan memaknai agama dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menunjukkan bahwa cyber religion berperan penting dalam transformasi kesadaran beragama generasi Z di era digital..

Keywords


Cyber Religion, Kesadaran Beragama, Generasi Z, Literasi Digital, Fenomenologi.

Full Text:

PDF

References


Alex, S. (2013). Semiotika Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya.

Budiman, R. (2003). Computer Forensic: Apa dan Bagaimana ? Jurnal Bandung.

Bungin, B. (2007). Analisis data penelitian kualitatif. PT RajaGrafindo Persada.

Dartoyo, A. (2007). Ensiklopedia sains dan teknologi. PT Lentera Abadi.

Dawson, I. L. (1998). Anti-modernism, modernism, and postmodernism: Struggling with the cultural significance of new religious movements. Sociology of religion, 59(2), 131–156.

Fakhruroji, M. (2018). Digitalizing Islamic lectures: Islamic apps and religious engagement in contemporary Indonesia. Contemporary Islam 2018, 13(2), 201–215.

Fathan. (2011). Metode penelitian kualitatif. Jenggala Pustaka Utama.

Ghifari, I. F. (2017). Radikalisme di internet. Religious : Jurnal Agama dan Lintas Budaya1, 123–134.

Habibi, malik. (2021). Youtube sebagai guru agama di era cyber religion. AdZikra: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam, 12(1).

Helland, K. I. (2007). Multi-lingualism, identity, and ideology in popular culture texts—Umfundi. http://umfundi.barbourians.org/thesis/hellend2007multilingualism

Hidayat, D. N. (2003). Paradigma dan metodologi penelitian sosial empirik klasik. Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia.

Hojsgaard, M., & Warburg, M. (Ed.). (2005). Religion and Cyberspace (0 ed.). Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203003572

Ilmiyah, P. N. H. (2021). Cyber religion dan dampaknya dalam buku “mengaji kepada ustadz google” karya ahmad sarwat (berdasar analisis hermeneutika gadamer). UIN Sunan Ampel.

Kriyantono, R., & Bungin, B. (2006). Teknik praktis riset komunikasi. Kencana Prenada Media Group.

Kuswarno, E. (2009). Fenomenologi: Metode penelitian komunikasi: konsepsi, pedoman, dan contoh penelitiannya. Widya Padjadjaran.

Meleong, L. J. (1989). Metologi penelitian kualitatif. PT Remaja Rosdakarya.

Menizies, A., Yulianto, D., Emlrfan, & Abd, K. (2014). Sejarah agama-agama: Studi sejarah, karakteristik dan praktik agama-agama besar dunia. Yogyakarta Forum.

Nurdin, S. (2003). Guru profesional & implementasi kurikulum. Ciputat Press.

Oktavia, N. A., Muhid, A., & Hamidah, L. (2021). Cyber-religion pada generasi z: Kontribusi mindfulness terhadap penggunaan akun dakwah jejaring sosial sebagai referensi keagamaan. Psikoislamedia : Jurnal Psikologi, 6(1), 108. https://doi.org/10.22373/psikoislamedia.v6i1.7939

Reddick, R., King, E., Ibrahim, M. D., & Maris, M. (1996). Internet untuk wartawan: Internet untuk semua orang. Yayasan Obor.

Rully, I. (2016). Metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif, dan campuran untuk manajemen, pembangunan dan pendidikan (revisi).

Simula, H., Töllinen, A., & Karjaluoto, H. (2013). Crowdsourcing in the Social Media Era: A Case Study of Industrial Marketers. Journal of Marketing Development and Competitiveness, 7(2), 122–137.

Sudijono, A. (1998). Pengantar evaluasi pendidikan. PT RajaGrafindo.

Sugiyono. (2018). Statistika Untuk Penelitian. Alphabeta.

Sujarweni, V. W. (2019). Metodologi penelitian bisnis & ekonomi. Yogyakarta Pustaka Baru.

Yudha, C. B. (2019). Professionalism Of Lecturersto Improve Character Of The Student Teachers Of The Millennial Era DisrupsI. Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series, 1(2), 83. https://doi.org/10.20961/shes.v1i2.26780

Ziakas, V., & Boukas, N. (2013). Extracting meanings of event tourist experiences: A phenomenological exploration of Limassol carnival. Journal of Destination Marketing & Management, 2(2), 94–107. https://doi.org/10.1016/j.jdmm.2013.02.002




DOI: https://doi.org/10.15548/amj-kpi.v17i01.14809

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2026 Fitriani Ayu Lestari, Emeraldy Chatra, Rahmi Surya Dewi