“BUNKASAI DISELENGGARAKAN DI PTKIN” MUNGKINKAH?

“BUNKASAI DISELENGGARAKAN DI PTKIN” MUNGKINKAH?

Penulis: Avifo Anwar

Prodi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan,

UIN Imam Bonjol Padang


Bunkasai (hiragana ぶんかさい, kanji 文化祭) adalah festival budaya yang dilaksanakan di berbagai instansi pendidikan di Jepang, dengan tujuan untuk meningkatkan kreativitas dan keterampilan peserta didik, serta semangat dalam melestarikan budaya. Jika di Indonesia, festival yang satu ini bukan hanya menampilkan kebudayaan Jepang, segala hal yang berhubungan dengan anime juga tak luput untuk di pamerkan dalam acara tersebut. Serupa dengan Jepang, acara ini diselenggarakan oleh hampir di semua instansi kependidikan di Indonesia seperti sekolah hingga perguruan tinggi, tujuannya sama dengan tambahan memperkenalkan budaya Jepang ke khalayak umum dan menjadi ajang menarik bagi para wibuers dan otaku lovers, karena akan ada penampilan cosplay (Dilansir dari Paxel, cosplay adalah sebuah kegiatan di mana seseorang mengenakan kostum, riasan wajah, dan berperan menyerupai karakter fiksi, seperti anime, manga, video game hingga film favorit mereka) dari karakter anime tertentu dan souvenir keanimean.

Sampai saat ini belum terbesit ide dari mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negri (PTKIN) se Indonesia yang ingin menyelenggarakan event Bunkansai di kampus mereka masing-masing, event ini bisa dianggap ide yang sangat tidak masuk akal di khalayak banyak jika benar-benar dilaksanakan di PTKIN, dikarenakan event yang satu ini dianggap tabu bagi sebahagian orang di masyarakat, termasuk para mahasiswa, civitas akademika hingga staff di setiap PTKIN se-Indonesia, apakah event Bunkasai mungkinkah dapat diadakan di PTKIN?

Perlu diketahui bahwa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negri (disingkat PTKIN) merupakan kampus Islam yang lebih interdisipliner dan inklusif, seperti UIN (Universitas Islam Negeri) sebagai contohnya, kampus semacam itu tidak infleksibel dalam menghadapi budaya-budaya yang baik tapi dianggap baru bagi Islam, berbeda dengan beberapa kampus Islam yang lain di negeri kita yang terkadang infleksibel dalam menerima perbedaan, sebagai contoh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam berideologi Salafi Wahabi (Berdasarkan pendapat Syekh Muhammad al-Fauly yang berkesimpulan bahwa Salafi Wahabi adalah sebuah pemikiran Islam yang muncul di Kota Uyayna wilayah Nejd Arab Saudi pada abad ke-18 masehi, pemikiran ini diprakasai oleh Muhammad bin Abdul Wahhab. Prinsip yang dibawa oleh pemikiran ini adalah memurnikan islam dari kesyirikan, kesesatan, kebid’ahan, takhayul dan khurafat), mereka tidak menormalisasi Maulid Nabi ﷺ karena tidak dicontohkan oleh Nabi ﷺ atau disebut dengan Bid’ah (Dinukil dari Al I’tisham: 1/37, dan dinukil dari ‘ilmu Usul Bida’, 24 dijelaskan bahwa bid’ah adalah suatu metode di dalam beragama yang di ada-adakan menyerupai syariat, dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala sedangkan tidak ada padanya dalil syar’i yang shahih dalam asal atau tata cara pelaksanaannya.).

Menurut pendapat penulis, sungguh luar biasa dan prestasi yang gemilang jika Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negri (PTKIN) dapat menyelenggarakan event Bunkasai, mengapa tidak? Kemauan PTKIN mengadakan event Jejepangan merupakan pertanda bahwa umat Islam berhasil mentoleransi dan mengalkulturasi budaya Islam dengan budaya Jepang secara sehat. Pada hakikatnya Islam tidak menghapus budaya-budaya yang di luar Islam/lama, melainkan budaya-budaya tersebut tetap jalan asal tidak bertentangan dengan syariat Islam atau bahkan mengalkulturasikan budaya-budaya di luar Islam/lama tersebut dengan budaya-budaya Islam seperti pakaian adat wanita yang dialkuturasikan dengan budaya Islam (sesuai dengan syariat islam) yaitu menutup aurat dan sopan.

Bunkasai selalu identik dengan cosplayer (orang yang melakukan kegiatan cosplay tersebut), fenomena yang satu ini dipastikan akan memunculkan kekhawatiran dan momok jika bunkasai diselenggarakan di PTKIN, yaitu cosplayer yang mengenakan kostum yang tidak sopan apalagi tidak menutup aurat, semua hal itu bisa diatasi dengan diterapkannya aturan yang mewajibkan setiap cosplayer memakai atribut yang sopan dan menutup aurat, misalnya karakter Frieren dalam serial anime The Journey Of Frieren, cosplayer wanita yang ingin mengenakan kostum karakter Frieren bisa menggunakan jilbab dan memanjangkan rok sehingga sesuai dengan syariat Islam, terlihat anggun, serta menambah nilai estetika. Adapun soal cosplayer menggunakan kostum lawan jenis seperti karakter pria di sebuah anime/manga dan sejenisnya dikenakan oleh wanita ataupun sebaliknya, hal ini bisa dicegah dengan diterapkannya rules larangan cosplayer pria mengenakan atribut karakter wanita dan sebaliknya, atau jika itu berkaitan dengan pertunjukan drama maka ini bukan sebuah masalah asal hanya di saat pertunjukan drama itu saja, seperti pemeran wanita memerankan karakter pria di pertunjukan randai.

Panitia dilarang membuat kegiatan yang melanggar syariat Islam dan norma-norma yang berlaku di lingkungan setempat dan yang dianggap melanggar syariat islam dan norma-norma yang berlaku di lingkungan masyarakat, seperti tarian (dance) yang biasanya identik dengan gaya barat yang dianggap menyimpang dari budaya lokal bisa diganti dengan tarian tradisional jepang kontemporer. Penulis menyarankan agar panitia membuat kegiatan yang bermanfaat dan mengedukasi bagi pengunjung dan khalayak banyak seperti, lomba kanji, debat bahasa Jepang, dan masih banyak lagi. Jika ingin perlombaan yang terkandung nilai-nilai keislaman di dalamnya, sebenarnya sangat bagus untuk dilaksanakan, seperti story telling bahasa Jepang yang bertema Islami, lomba kultum bahasa Jepang, hingga musik religi (nasyid) berbahasa Jepang atau memakai alat musik khas Jepang, sehingga bisa menjadi sarana dakwah bagi umat Islam yang moderat dan tidak monoton, dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Artinya: “Barangsiapa yang memulai mengerjakan perbuatan baik dalam Islam (sehingga menjadi kebiasaan ummat), maka dia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mencontoh perbuatan itu, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang memulai kebiasaan buruk (sehingga menjadi kebiasaan ummat), maka dia akan mendapatkan dosanya, dan dosa orang yang mengikutinya dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR Bukhari Muslim)

Persoalan merchandise dan souvenir yang dikhawatirkan dapat melanggar syariat juga sama solusi penanggulangan agar kejadian tersebut tidak terjadi dengan berbagai aturan diatas. Para pedagang souvenir harus bijak dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus Islam negri yang sudah melekat di dalamnya akan aturan dan nilai-nilai keislaman, barang dagangan mulai dari gantungan kunci, stiker, pakaian, hingga manikin karakter anime harus dipertimbangkan dengan bijak, agar tidak menyalahi syariat islam dan norma yang berlaku di lingkungan masyarakat setempat.

Event Bunkasai bisa dilaksanakan di PTKIN dengan memperhatikan nilai-nilai keislaman dan norma-norma yang berlaku di lingkungan sekitar kampus. Bukan sebuah kesalahan sebuah event berbalut kebudayaan Jepang dapat beralkulturasi dengan kebudayaan Islam di lingkungan kampus Keagamaan Islam, dengan diadakannya event Bunkasai kita bisa sambil berdakwah dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, inilah prinsip amar ma'ruf nahi mungkar yang moderat.

Penulis berharap agar umat Islam dapat mengembalikan kejayaan agamanya sendiri dengan tidak terlalu ekstrim dalam beragama dan tidak terlalu liberal dalam beragama, melainkan beragama dengan konsep “Ummatan Washatan” yang artinya umat pertengahan, karena sejatinya Islam adalah agama yang mudah dan tidak mempersulit penganutnya.