Perihal sembuh
Kata mereka “ikhlaskan saja lah, kamu harus lebih berlapang dada untuk menerima semua kenyataan ini. Mau bagaimana pun ini sudah takdir dari yang kuasa, apa boleh buat”. Banyak yang bilang demikian tanpa memberi tahu bagaimana cara Ikhlas yang benar-benar Ikhlas? Jika ikhlas hanya sebuah omongan itu sangat mudah dilakukan bukan? Tapi bagaimana meminta pada diri untuk benar-benar ikhals terhadap sesuatu yang harus direlakan secara baik-baik dan diterima dengan lapang dada. Bagimana caranya ?
Jikalau Ikhlas hanya sebuah omongan belaka, maka banyak takdir-takdir yang belum diterima. Kenapa? Karena Ikhlas hanya sebatas omongan yang hanya sampai ke mulut saja, bukan ke lubuk hati paling dalam. Ketika kamu berada di titik terendah hidup, kamu akan merasakan bahwa hidup mu sangat pahit dan tidak ada rencana yang sesuai dengan kemauan mu. Padahal katanya yang kemarin-kemarin sudah diikhlaskan, tapi giliran ada masalah semuanya diungkit sampai yang terdalam. Contohnya ketika kamu gagal ikut lomba karena kamu merasa belum mampu, padahal dicoba saja dulu biar kamu enggak penasaran, jatuh dari motor ketika kamu lagi ikut acara dan setelahnya merasa enggak becus karena enggak berkontribusi lebih, padahal kamu udah effort dan hampir saja kehilangan harta berharga, yaitu nyawa.
Masih banyak lagi hal-hal yang setelah dipikir-pikir kita belum se Ikhlas itu ya. Nyatanya kita hanya meletakkan Ikhlas hanya dimulut saja. Setelah itu kita tumpuk menjadi beban pikiran dan setelah pikiran itu penuh semua penyesalan itu keluar bagai air bah yang membanjiri seluruh kota. Kamu banjir dengan air mata dan merasa semuanya sia-sia, kamu belum bisa melakukan apa-apa disaat orang lain sudah bertumbuh lebih baik.
Kadang kala orang lain sering menjadi patokan kita untuk maju, padahal kita bisa harus menjadi patokan diri sendiri untuk lebih baik kedepannya. Kita mulai dengan bagaimana harusnya hari ini lebih baik dari pada hari kemarin dan bagaimana kita dapat menerima diri kita dengan seikhlasnya. Nah, setelah ini ikhals lah yang masih menjadi masalah. Bagaimana dengan Ikhlas?
Apakah ikhas adalah jalan untuk kita menjadi terus bertumbuh

