Chintia Jailani

Meningkatnya Angka Pengangguran,

Mendominasi Aktivitas Kuliah Kupu-Kupu

 

Chintia Jailani

Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam

Fakultas Dakwah Dan Ilmu Komunikasi

Universitas Islam Negeri Imam Bonjol, Indonesia

Email; [email protected]

 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) angka pengangguran terdidik dalam artian lulusan sarjana meningkat setiap tahunnya dari pada lulusan SMA, tercatat terjadi peningkatan 6,12% pada tahun 2023. Februari 2024 dari data tingkat pengangguran terbuka (TPT) melaporkan sebesar 4,82% ada penurunan sedikit dari tahun sebelumnya. Namun pembahasan dan fenomena penggaguran ini terus menjadi perhatian public.

Berbagai pakar dan riset terus mencoba meneliti apa yang menyebabkan angka pengangguran ini terus meningkat setiap tahunnya. Nyarisnya angka itu di dominasi oleh lulusan sarjana. Ini menimbulkan isu di ruang percakapan khalayak masyarakat akan kurangnya minat untuk menempuh pendidikan tinggi jika ujung-ujungnya tetap pengangguran. Bahkan angka pengguran lebih didominasi para lulusan sarjana dibanding SMA.

Melalui hasil wawancara dengan salah satu lulusan di suatu universitas menyebutkan bahwa mereka yang telah dinyatakan lulus secara laporan akademik itu, mengaku kewalahan dalam memasuki dunia pekerjaan. Ipk saja tidak cukup dalam profesi pekerjaan saat ini, apalagi perkembangaan teknologi yang begitu pesan dapat menggantikan tugas manusia. Karenanya mereka menyadari pentingnya kemampuan skill yang mumpuni dalam suatu bidang, terutama penguasaan teknologi, media, menulis dan public speaking.

Mereka menyadari dan menyesal saat kuliah dulu hanya sebagai mahasiswa kupu-kupu, yang teropsesi segera menyelesaikan bangku kuliah tanpa membekali diri dengan berbagai skill yang bisa di dapatkan dari kegiatan kegiatan ekstra, ormawa serta ukm yang ada dalam universitas. Faktanya dengan berkecimpung dalam kegiatan tersebut kita bisa mempelajari hal hal yang sebenarnya kita butuhkan. Kemampuan relationship , leadership, pengurusan administrasi dan pengusaaan media dalam publikasi.

Hidup itu pilihan mau capek dahulu bersenang senang kemudian atau bahkan sebaliknya. Namun nyatanya mahasiswa saat ini suka yang instan dan tak mau berproses. Dengan menyeimbangkan diri dalam ilmu pengetahuan dan pengalaman itu sangat wajib dilakukan era saat ini. Mahasiswa harus bisa membagi waktu kuliah dengan ragam kegiatan yang ada, barulah disebut mahasiswa.

Dengan berkecimpung dalam kegiatan yang positif bukan berarti kita tengah membuang waktu, malah kita tengah mengisi asset untuk tubuh kita di masa mendatang. Namun perlu diingat saat memutuskan untuk masuk dalam suatu kegiatan maka lakukanlah dengan serius, ambil ilmunya dan praktekkan bukan hanya sekedar ikut ikutan saja.

Dunia kampus saja saat ini berbagai kegiatan diminta hasil karya tulisan baik itu ilmiah maupun popular, semakin tinggi literasi kita maka akan semakin mudah kita dalam memuat banyak tulisan. Kalau kata dosen pengamat literasi “kalau ingin mengetahui dunia maka membacalah, dan jika mau dikenal dunia maka menulislah,” Dr. Abdullah Khusuari, S.Ag, M.A. menjadi mahasiswa adalah kesempatan yang tak bisa di dapatkan banyak orang. Maka bangga dan bersyukurlah menjadi mahasiswa, meningkatkan literasi membaca dan memperluas wawasan serta menciptakan karya karya ilmiah sekiranya wajib dilakukan.

Gerakan dan kesadaran ini mesti terus kita gerakkan agar setiap lulusan sarjana disetiap universitas tak lagi berfikir bagaimana mencari kerja namun lebih memperluas pengetahuan dengan menciptakan lapangan pekerjaan yang mampu menjangkau segmen pasar global. Fenoma mahasiswa kupu kupu harus segera dipudarkan agar terwujudnya mahasiswa yang kreatif dan inovatif yang mampu menciptakan perubahan positif untuk negara kita Inonesia.