Ilustration by @kurniawati1999
MAU SUKSES HARUS PUNYA BAKAT?
Hesti Agustin
Alumni SLC 2024
Di dunia yang serba cepat dengan teknologi yang canggih ini, sering kali kita terpesona oleh individu-individu yang tampaknya dilahirkan dengan bakat yang luar biasa. Namun, pertanyaan sederhananya adalah apakah benar bahwa bakat merupakan satu-satunya jalan menuju kesuksesan? Menentukan bagaimana karir kita kedepan? Angela Duckworth, seorang psikolog dan penulis buku "Grit: The Power of Passion and Perseverance," menantang anggapan tersebut dengan menunjukkan bahwa ketekunan dan semangat lebih dapat menentukan nasib kesuksesan seseorang.
Bakat sering dipandang sebagai golden ticket menuju prestasi puncak. Dalam bidang seperti seni misalnya, olahraga atau akademik, kita kerap melihat individu yang menonjol berkat kemampuan alami yang mereka miliki. Kisah-kisah tentang anak ajaib yang memukau dunia sering kali membuat kita percaya bahwa bakat adalah segalanya. Orang-orang yang “Berbakat” akan tampak lebih mudah dalam melakukan sesuatu yang bagi orang lain hal tersebut tampak sulit. Namun, berfokus terlalu banyak pada bakat bisa menyesatkan. Bakat mungkin memberi awal yang baik, tetapi tidak menjamin kesuksesan jangka panjang. Lebih dari itu, terlalu mengandalkan bakat dapat membuat seseorang lalai mengasah kemampuan mereka melalui kerja keras. Karena jika bakat tidak dibumbui kerja keras, hasilnya pun tidak maksimal bahkan tidak sedikit yang gagal atau berada dibawah mereka yang memiliki semangat dan usaha yang tinggi.
Ketekunan: Rahasia Sukses yang Sesungguhnya
Angela Duckworth seorang professor psikologi di Universitas of Pennsylvania, melalui riset mendalamnya, mengungkap bahwa sukses sejati lebih sering diperoleh oleh mereka yang memiliki grit (kombinasi dari passion dan ketekunan atau kegigihan). Banyak riset yang telah dilakukan oleh Angela Duckworth salah satunya pada kontes Ejaan Nasional (National Spelling Bee), yaitu kompetisi paling ketat bagi anak-anak di Amerika Serikat. Ia menemukan bahwa anak-anak yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk latihan ejaan dan mempelajari kosa kata, meskipun pada awalnya mungkin mereka tidak memiliki bakat tersebut. Mereka cenderung lebih berhasil dibandingkan yang mengandalkan kemampuan alami. Artinya, ketekunan seseorang untuk terus berlatih merupakan faktor utama yang menentukan juara, bukan bakat bawaan. Hal tersebut memperkuat konsep “10.000-Hour Rule” yang populer dikemukakan oleh Malcolm Gladwell. Berikut adalah alasan mengapa ketekunan bisa mengalahkan bakat:
- Upaya Mengalahkan Bakat: Upaya yang konsisten dan terarah dapat mengubah kemampuan rata-rata menjadi keahlian luar biasa. Duckworth menunjukkan bahwa mereka yang terus berlatih dan memperbaiki diri memiliki peluang lebih besar untuk sukses dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan bakat tanpa ingin berusaha keras. “Karena tanpa upaya, bakat yang dimiliki tidak lebih dari potensi yang tidak dipenuhi”- Duckworth.
- Belajar dari Kegagalan: Ketekunan membantu seseorang melihat kegagalan sebagai batu loncatan menuju keberhasilan. Kegagalan bukan akhir dari segalanya bagi mereka yang terus berusaha, bahkan menjadi motivasi yang luar biasa. Begitulah seharusnya reaksi terhadap hambatan. Dengan menghadapi kegagalan dengan tekad untuk bangkit, individu dapat mempelajari cara baru untuk mencapai tujuan mereka. Evaluasi dan temukan cara berbeda.
- Passion sebagai Pendorong: Passion memberikan bahan bakar emosional yang menjaga semangat tetap hidup dalam jangka panjang. Mereka yang menemukan dan mengikuti passion mereka cenderung lebih termotivasi untuk menghadapi tantangan. Ketika telah menemukan passion, tentu dalam proses akan lebih terasa nyaman tanpa ada paksaan karena telah menemukan hal yang disukai.
- Dukungan Lingkungan: Lingkungan yang mendukung, termasuk keluarga dan teman, memainkan peran penting dalam membangun ketekunan. Dukungan emosional dan motivasi dari orang-orang terdekat dapat memperkuat daya tahan mental seseorang. Maka berada di lingkungan yang sehat dengan orang-orang hebat di dalamnnya, sangat mempengaruhi bagaimana diri kita kedepannya. Karena orang-orang disekitar kita sebagai bentuk cerminan diri.
Membangun Jalan Menuju Kesuksesan
Duckworth menekankan bahwa ketekunan dapat dibangun dan ditingkatkan. Menetapkan tujuan jangka panjang yang jelas, berkomitmen pada usaha terus-menerus walaupun kecil, dan selalu mencari cara untuk meningkatkan diri adalah kunci untuk mengembangkan ketekunan. Apabila menemukan kegagalan, segera mencari tahu kesalahan atau kekurangan dan mulai melakukan jalan secara berbeda. Menemukan passion sejati juga krusial. Duckworth menyarankan untuk bereksperimen dengan berbagai aktivitas hingga menemukan yang benar-benar menggugah semangat dan komitmen.
Jadi, ketika ditanya, "Mau sukses harus punya bakat?" Jawabannya adalah tidak harus. Bakat memang bisa membuka pintu gerbang dan batu loncatan, tetapi ketekunanlah yang memastikan kita bisa melangkah melewatinya. Dalam dunia yang penuh tantangan ini, kemampuan untuk tetap berkomitmen dan berusaha keras sering kali menjadi penentu utama kesuksesan. Kesuksesan lebih dari sekadar bakat, karena itu adalah hasil dari kerja keras, semangat, dan tekad untuk terus berjuang, tidak peduli seberapa berat perjalanan yang dihadapi di depan mata.
“Karena sejatinya bakat bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan kita dalam meraih prestasi”
- Duckworth-

