Publish: Rabu, 04 Juni 2025 (Pukul 20.10 WIB)
Penyunting: Devisi Litbang UKM Bengkel Kata
Apa Yang Sebenarnya Terjadi Di Era Teknologi?
Oleh: Karmilawati
Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Falkutas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negri Imam Bonjol Padang
E-mail: [email protected]
Teknologi Mempermudah Hidup? Tidak selalu!
Kita hidup di zaman serba cepat, digital, dan instan, dari bangun tidur hingga kembali tidur. Hampir seluruh aktivitas kita bersinggungan dengan teknologi: mulai dari smartphone, media sosial, aplikasi belanja, belajar daring, pekerjaan jarak jauh hingga urusan administratif yang kini bisa dilakukan dari atas kasur. Namun, di balik semua kemudahan itu, pernahkah kita bertanya: “Apa yang sebenarnya sedang terjadi di era teknologi ini?” Apakah hidup kita benar benar menjadi lebih baik, atau justru semakin dikendalikan oleh layar-layar kecil dalam genggaman?
AI & Robotisasi: Ancaman Nyata bagi Pekerja Manusia
Kecerdasan buatan (AI) dan robot perlahan menggantikan peran manusia dalam dunia kerja. Pekerjaan yang dahulu memerlukan sentuhan manusia, kini dapat diselesaikan dengan mesin dalam hitungan detik. Banyak yang mengagumi efisiensinya, namun tak sedikit pula yang kehilangan mata pencaharian. Mengapa? karena AI dan robot bisa bekerja tanpa henti, tanpa lelah, tanpa gaji, dan tanpa cuti. Bagi perusahaan, ini adalah jackpot. Mengapa membayar 10 karyawan jika satu AI dapat menggantikan mereka dengan biaya lebih murah dan tanpa drama?
Menurut KONTAN.CO.ID, sebanyak 61.000 pekerjaan lenyap di awal 2025. Google, Microsoft, dan Amazon melakukan PHK besar-besaran. Berdasarkan data Layoffs.fyi, lebih dari 61.220 karyawan diberhentikan oleh sekitar 130 perusahaan teknologi hingga pertengahan Mei 2025. Dalih mereka: reorganisasi internal, strategi jangka panjang, dan efisiensi operasional. Namun, kenyataannya, mereka mengganti tenaga kerja manusia dengan AI alat kerja tanpa gaji, tanpa cuti, tanpa keluhan. AI kini dianggap aset utama tanpa emosi, tanpa tuntutan, dan tanpa hak. Transformasi ini bukan sekadar efisiensi, tetapi pergeseran brutal dari tenaga manusia ke mesin. Dari loyalitas ke logika algoritma. Karyawan yang dahulu dianggap aset kini dipandang sebagai beban. Selamat datang di era baru, di mana kode menggantikan kerja keras, dan manusia dikalahkan oleh ciptaannya sendiri. Ini bukan teori konspirasi ini kenyataan.
Privasi: Komoditas Murah di Era Digital
Dampak lain dari perkembangan teknologi adalah tergadainya privasi. Privasi kini menjadi komoditas yang diperjualbelikan layaknya barang grosir di pasar gelap. Contoh kasus: kebocoran data BPJS Kesehatan tahun 2021. Dilansir Medcom.id, 279 juta data peserta diduga bocor dan dijual di dark web, mencakup nama, alamat, nomor telepon, dan riwayat kesehatan. Lebih parah, data tersebut digunakan untuk penipuan dan peminjaman online ilegal. Privasi yang seharusnya menjadi hak asasi kini menjadi alat transaksi. Perusahaan teknologi hanya sibuk mengumpulkan data, namun abai saat terjadi kebocoran. Negara pun sering terlambat merespons dan hanya bertindak saat kasus viral dan ramai diperbincangkan. Jadi, siapa yang benar-benar aman di era digital ini? Jawabannya: Bukan kita!
Algoritma: Penentu Pola Pikir Manusia Modern
Apakah pernah kita merasakan bahwa media sosial tau segalanya tentang kita? Itu bukan kebetulan! Algoritma secara diam-diam membentuk realitas digital kita. Ia tidak hanya menampilkan konten yang menarik, namun juga menyaring informasi yang tidak sejalan dengan pola kita. Tanpa sadar, kita hidup dalam lingkaran algoritma yang membentuk pola pikir, kebiasaan, bahkan Keputusan hidup. Konten viral lebih cepat menyebar dibandingkan fakta. Hoaks lebih cepat diterima dibandingkan informasi yang bermanfaat. Pola pikir menjadi kacau karena paparan konten yang memicu kontroversi. Algoritma lebih memberikan apa yang kita suka, dibandingkan yang kita butuhkan. Kita tidak lagi berpikir, tetapi dibentuk cara berpikirnya. Algoritma bukan makhluq jahat, kesalahannya adalah jika ia bekerja tidak dikontrol dan tanpa transparansi yang diharapkan hanya demi keuntungan. Titik itulah yang perlahan-lahan merubah kita menjadi sebuah produk.
Refleksi dan Solusi
Era teknologi bukan hanya tentang kecanggihan alat, tetapi juga soal perubahan cara hidup, berpikir dan cara berinteraksi. Informasi memang melimpah, namun sulit untuk dipercaya. Komunikasi semakin instan, tapi hubungan semakin jauh. Dunia digital memberikan kita realitas ganda: antara bantuan dan boomerang. Kita hidup di zaman ketika manusia mulai dikalahkan oleh ciptaannya sendiri. Oleh karena itu, apa yang dapat kita lakukan?
Pertama, belajar dan sadar. Jangan percaya kepada satu sumber, apalagi jika hanya dari media sosial yang dikendalikan oleh algoritma. Verifikasi informasi merupakan strategi perlawanan, jangan menjadi korban manipulasi hanya karena malas membaca dan mudah percaya. Kuasai ilmu keuangan, bisnis dan teknologi. Saat ini, kebutaan tidak saja berfokus kepada orang yang tidak bisa membaca, namun yang tidak paham arah dunia digital. Kita tidak harus jadi ahli, tapi jangan sampai buta terhadap perubahan dunia. Kedua, bangun jaringan dan perluas wawasan. Berinteraksi dengan orang-orang yang berpikir jauh ke depan. Bukan hanya sibuk mencari uang tapi tidak memiliki visi 5-10 tahun ke depan. Lingkungan menjadi penentu kita di masa depan.
Ingat! Dunia semakin keras terhadap mereka yang terjebak di zona nyaman. Jika tidak bergerak, kita akan digilas. Jadi, berhenti rebahan sambil scroll tanpa tujuan. Bangunlah strategi untuk hidup, karena situasi saat ini merupakan kekalahan manusia oleh ciptaannya sendiri. Sadarlah, ini bukan kontroversi, namun fakta lapangan.

